Zakir Blogger
Translate
Selasa, 25 Oktober 2016
Sabtu, 08 Oktober 2016
Selasa, 05 Januari 2016
Triangulasi Udara
TRIANGULASI UDARA
by WAHYU NURMARCH 30, 2014
Triangulasi udara merupakan metode penentuan titik kontrol dengan cara melakukan pengukuran koordinat foto atau koordinat model yang selanjutnya diproses dengan perhitungan perataan, sehingga dapat diperoleh koordinat maupun elevasi tanah dengan ketelitian yang memenuhi persyaratan teknik untuk keperluan pemetaan fotogrametri.
Berdasarkan data koordinat yang diukur, maka triangulasi udara dapat dilakukan dengan tiga cara,
yaitu :
yaitu :
- Aeropoligon dengan data input berupa koordinat strip
- Independent Model Triangulation , data input berupa koordinat model.
- Bundle Adjustment , data input berupa koordinat foto.
Triangulasi udara adalah bagian kegiatan dalam pemetaan fotogrametri dengan cara mengukur
titik-titik minor foto, kemudian ditranformasi ke titik referensi (titik kontrol tanah). Kegiatan triangulasi udara ini dapat dilaksanakan dalam waktu yang singkat dan biaya yang lebih murah dibandingkan dengan metode konvensional yang dilakukan secara terestris dilapangan. Berdasarkan cara pengukuran yang dilakukan dan instrument yang digunakan yaitu menggunakan metode Model Bebas (independent
model) yang berdasarkan pada unit dasar model dimana dilakukan pengukuran koordinat titik-titik model hasil orientasi relatif dan pengukuran koordinat pusat proyeksi foto udara.
titik-titik minor foto, kemudian ditranformasi ke titik referensi (titik kontrol tanah). Kegiatan triangulasi udara ini dapat dilaksanakan dalam waktu yang singkat dan biaya yang lebih murah dibandingkan dengan metode konvensional yang dilakukan secara terestris dilapangan. Berdasarkan cara pengukuran yang dilakukan dan instrument yang digunakan yaitu menggunakan metode Model Bebas (independent
model) yang berdasarkan pada unit dasar model dimana dilakukan pengukuran koordinat titik-titik model hasil orientasi relatif dan pengukuran koordinat pusat proyeksi foto udara.
1. Persebaran titik kontrol tanah vertikal dan
horisontal
horisontal
2. Triangulasi Udara (titik-titik van gubber)
3. Contoh persebaran titik triangulasi udara dengan 2
jalur
jalur
Gambar di atas menunujukkan 2 jalur terbang yang berisi titik persebaran Triangulasi Udara baik titik kontrol vertikal maupun titik kontrol horisontal.
Pengambilan data koordinat untuk keperluan triangulasi udara dapat dilakukan dengan tiga cara,
yaitu :
yaitu :
- Pengadaan data koordinat strip
Pengadaan data koordinat strip antara lain dapat dilakukan dengan menggunakan alat multiplex. Data hasil pengamatan berupa data koordinat strip. Strip adalah gabungan dari beberapa foto udara yang saling overlap antara satu foto dengan foto berikutnya. Untuk menggabungkan foto udara tersebut dilakukan dengan mengidentifikasi obyek yang sama antara dua foto udara yang berurutan, selanjutnya kedua foto udara tersebut disambungkan pada obyek yang sama, sehingga antara satu foto dengan foto berikutnya menjadi mosaik foto udara. Dengan cara yang sama dilakukan penyambungan foto berikutnya, sehingga akan membentuk satu strip memanjang dari foto udara dalam satu jalur penerbangan. - Pengadaan data koordinat model
Pengadaan data koordinat model dapat dilakukan dengan dua cara sebagai berikut :
a. Dengan menggunakan alat stereo plotter. Hasil pengukuran dengan stereo plotter adalah koordinat model dengan sisitem koordinat yang independent (bebas).
b. Dengan menggunakan Komparator Hasil ukuran denga alat komparator adalah data koordinat komparator. Data koordinat komparator ini terlebih dahulu diubah ke sistem koordinat foto dengan software tertentu. Selanjutnya data koordinat foto ini ditransformasikan ke sistem koordinat model dengan suatu program yang disebut Digital Relative Orientation ( DRO ). - Pengadaan data koordinat foto Pengadaan data koordinat foto dilakukan dengan menggunakan alat komparator. Hasil pengukuran dengan komparator ini berupa koordinat komparator yang selanjutnya diubah ke sistem koordinat foto.
sumber:http://geospasial.net/2014/03/triangulasi-udara/
Fotogrametri
Fotogrametri
Definisi Fotogrametri
Fotogrametri merupakan seni, ilmu, dan teknologi perolehan informasi tentang obyek fisik dan lingkungan melalui proses perekaman, pengukuran, dan penafsiran foto udara (Thomson dan Gruner, 1980).
Istilah Fotogrametri berasal dari kata photos (=sinar), gramma (=sesuatu yang tergambar) dan metron (=mengukur). Secara sederhana maka fotogrametri dapat diartikan sebagai "pengukuran secara grafis dengan menggunakan sinar". Dari definisi tersebut dapat dimengerti bahwa fotogrametri meliputi (Wolf, 1983) :
-Perekaman obyek (pemotretan)
-Pengukuran gambar obyek pada foto udara
-Pemotretan hasil ukuran untuk dijadikan bentuk yang bermanfaat (Peta).
Garis besar Proses Fotogrametri
...Diagram...
a. Persiapan
Secara teknis dalam kegiatan persiapan di lakukan "
- Perencanaan pemotretan
- Perencanaan Pengukuran dan Penandaan titik kontrol tanah (premarking)
b. Premarking/Penandaan titik kontrol tanah
Sebelum dilakukan pemotretan pada setiap titik kontrol tanah yang ada harus diberi tanda (premark). Hal ini dimaksudkan supaya pada foto udara hasil pemotretan nantinya akan dapat ditemukan titik-titik kontrol tanah tersebut. Hal ini sangat penting artinya dalam pekerjaan triangulasi udara.
c. Pengukuran titik kontrol tanah
Titik kontrol tanah yang telah ditandai kemudian diukur untuk mengetahui koordinatnya, baik koordinat planimetri (X,Y) maupun tinggi (Z). Biasanya untuk daerah datar cukup diukur koordinat planimetrinya, sedangkan untuk daerah bergunung selain koordinat planimetri juga harus diukur tingginya. Koordinat titik kontrol tanah ini diperlukan untuk proses triangulasi udara.
d. Pemotretan
Pemotretan dilakukan sesuai dengan perencanaan pemotretan. Dari hasil pemotretan diperoleh foto udara dari daerah yang akan dipetakan. Foto udara yang dihasilkan dapat dapat diketahui baik tidaknya dari kualitas ketajaman dan kesempurnaan overlap dan sidelapnya. Biasanya foto udara mempunyai overlap 60% dan sidelap 30%, dan untuk keperluan tertentu bisa dibuat dengan overlap 80% dan sidelap 60%
e. Triangulasi Udara
Untuk keperluan proses penyeragaman skala pada setiap foto udara harus terdapat sejumlah titik kontrol tanah. Mengingat pekerjaan fotogrametri meliputi daerah yang luas dan meliputi jumlah foto yang sangat banyak, maka pengadaan titik kontrol tanahnya dilakukan dengan cara triangulasi udara. Secara sederhana triangulasi udara merupakan proses transformasi dari koordinat yang diukur di foto ke koordinat tanah dengan bantuan titik kontrol tanah dengan bantuan titik kontrol tanah hasil (c).
f. Proses restitusi
Proses ini secara sederhana dapat dikatakan sebagai proses penyeragaman skala, dari foto udara yang tidak seragam skalanya menjadi peta/foto yang seragam skalanya. Untuk daerah datar biasa dilakukan dengan cara restitusi foto tunggal, dan disebut sebagai proses rektifikasi, hasilnya berupa foto terrektifikasi. Untuk daerah bergunung dilakukan dengan cara restitusi foto stereo, yang meliputi pekerjaan orientasi model dan dilanjutkan dengan proses plotting atau orthophoto, hasilnya bisa berupa manuskrip peta garis atau porthophoto.
g. Mosaik
Secara sederhana dapat dikatakan sebagai proses penyambungan foto, sehingga diperoleh format ukuran yang lebih luas. Dalam rangkaian pekerjaan pemetaan fotogrametri, yang dibuat mosik adalah foto terrektifikasi atau orthophoto, dan dikontrol dengan adanya titik ikat. Istilah yang lebih tepat sering disebut mosaik terkontrol.
h. Interpretasi foto
Informasi tekstual (tutupan lahan) dari daerah yang dipotret, yang akan disajikan sebagai keterangan pada petatidak mungkin untuk didata langsung dilapangan, melainkan diperoleh dengan cara diinterpretasikan melalui foto udara. Keyakinan hasil interpretasi biasanya cukup berdasarkan kunci-kunci interpretasi, akan tetapi kadang-kadang harus diuji kebenarannya dengan melakukan identifikasi lapangan.
i. Kartografi
Untuk menyajikan peta, baik peta garis maupun peta foto dalam bentuk yang baku lengkap dengan informasi peta yang diperlukan, maka harus melalui tahapan pekerjaan kartografi.
j. Peta garis dan Peta Foto
Peta garis dan peta foto merupakan produk akhir dari pemetaan fotogrametri. Pada peta garis detil-detil di lapangan digambarkan dalam bentuk simbol-simbol, sedangkan pada peta foto terekam sebagai citra foto.
Fotogrametri merupakan seni, ilmu, dan teknologi perolehan informasi tentang obyek fisik dan lingkungan melalui proses perekaman, pengukuran, dan penafsiran foto udara (Thomson dan Gruner, 1980).
Istilah Fotogrametri berasal dari kata photos (=sinar), gramma (=sesuatu yang tergambar) dan metron (=mengukur). Secara sederhana maka fotogrametri dapat diartikan sebagai "pengukuran secara grafis dengan menggunakan sinar". Dari definisi tersebut dapat dimengerti bahwa fotogrametri meliputi (Wolf, 1983) :
-Perekaman obyek (pemotretan)
-Pengukuran gambar obyek pada foto udara
-Pemotretan hasil ukuran untuk dijadikan bentuk yang bermanfaat (Peta).
Garis besar Proses Fotogrametri
...Diagram...
a. Persiapan
Secara teknis dalam kegiatan persiapan di lakukan "
- Perencanaan pemotretan
- Perencanaan Pengukuran dan Penandaan titik kontrol tanah (premarking)
b. Premarking/Penandaan titik kontrol tanah
Sebelum dilakukan pemotretan pada setiap titik kontrol tanah yang ada harus diberi tanda (premark). Hal ini dimaksudkan supaya pada foto udara hasil pemotretan nantinya akan dapat ditemukan titik-titik kontrol tanah tersebut. Hal ini sangat penting artinya dalam pekerjaan triangulasi udara.
c. Pengukuran titik kontrol tanah
Titik kontrol tanah yang telah ditandai kemudian diukur untuk mengetahui koordinatnya, baik koordinat planimetri (X,Y) maupun tinggi (Z). Biasanya untuk daerah datar cukup diukur koordinat planimetrinya, sedangkan untuk daerah bergunung selain koordinat planimetri juga harus diukur tingginya. Koordinat titik kontrol tanah ini diperlukan untuk proses triangulasi udara.
d. Pemotretan
Pemotretan dilakukan sesuai dengan perencanaan pemotretan. Dari hasil pemotretan diperoleh foto udara dari daerah yang akan dipetakan. Foto udara yang dihasilkan dapat dapat diketahui baik tidaknya dari kualitas ketajaman dan kesempurnaan overlap dan sidelapnya. Biasanya foto udara mempunyai overlap 60% dan sidelap 30%, dan untuk keperluan tertentu bisa dibuat dengan overlap 80% dan sidelap 60%
e. Triangulasi Udara
Untuk keperluan proses penyeragaman skala pada setiap foto udara harus terdapat sejumlah titik kontrol tanah. Mengingat pekerjaan fotogrametri meliputi daerah yang luas dan meliputi jumlah foto yang sangat banyak, maka pengadaan titik kontrol tanahnya dilakukan dengan cara triangulasi udara. Secara sederhana triangulasi udara merupakan proses transformasi dari koordinat yang diukur di foto ke koordinat tanah dengan bantuan titik kontrol tanah dengan bantuan titik kontrol tanah hasil (c).
f. Proses restitusi
Proses ini secara sederhana dapat dikatakan sebagai proses penyeragaman skala, dari foto udara yang tidak seragam skalanya menjadi peta/foto yang seragam skalanya. Untuk daerah datar biasa dilakukan dengan cara restitusi foto tunggal, dan disebut sebagai proses rektifikasi, hasilnya berupa foto terrektifikasi. Untuk daerah bergunung dilakukan dengan cara restitusi foto stereo, yang meliputi pekerjaan orientasi model dan dilanjutkan dengan proses plotting atau orthophoto, hasilnya bisa berupa manuskrip peta garis atau porthophoto.
g. Mosaik
Secara sederhana dapat dikatakan sebagai proses penyambungan foto, sehingga diperoleh format ukuran yang lebih luas. Dalam rangkaian pekerjaan pemetaan fotogrametri, yang dibuat mosik adalah foto terrektifikasi atau orthophoto, dan dikontrol dengan adanya titik ikat. Istilah yang lebih tepat sering disebut mosaik terkontrol.
h. Interpretasi foto
Informasi tekstual (tutupan lahan) dari daerah yang dipotret, yang akan disajikan sebagai keterangan pada petatidak mungkin untuk didata langsung dilapangan, melainkan diperoleh dengan cara diinterpretasikan melalui foto udara. Keyakinan hasil interpretasi biasanya cukup berdasarkan kunci-kunci interpretasi, akan tetapi kadang-kadang harus diuji kebenarannya dengan melakukan identifikasi lapangan.
i. Kartografi
Untuk menyajikan peta, baik peta garis maupun peta foto dalam bentuk yang baku lengkap dengan informasi peta yang diperlukan, maka harus melalui tahapan pekerjaan kartografi.
j. Peta garis dan Peta Foto
Peta garis dan peta foto merupakan produk akhir dari pemetaan fotogrametri. Pada peta garis detil-detil di lapangan digambarkan dalam bentuk simbol-simbol, sedangkan pada peta foto terekam sebagai citra foto.
sumber :http://geomaticsandsurveying.blogspot.co.id/2010/02/fotogrametri.html
Jumat, 18 Desember 2015
DAFTAR
ISI
BAGIAN I Mengenal AutoCAD.............................................................................. 2
BAGIAN II Membuat Project Baru........................................................................... 4
BAGIAN III Membuat Kontur Hasil Pengukuran Topografi...................................... 8
BAGIAN IV Membuat Layout Peta............................................................................ 15
LAMPIRAN
File Data Koordinat Hasil
Pengukuran Topografi
ENGENAL AUTOCAD
Sebelum
melukukan kegiatan penggambaran peta (drafting) untuk keperluan topografi, ada
baiknya bila mengenal terlebih dahulu tool-tool standar yang biasa digunakan
dalam penggambaran sebuah peta.
Terdapat
banyak tool-tool dalam AutoCAD, namun pada modul ini hanya akan dikenalan
tool-tool yang sering digunakan dalam penggambaran peta.
1.
Tool Draw
Pada
Tool Draw terdapat tool-tool yang bersifat membuat objek baru:
a.
Line
: Untuk membuat objek berupa garis lurus.
b.
Construction
Line : untuk membuat objek berupa garis baseline.
c.
Polyline
: membuat objek berupa beberapa garis lurus yang saling terhubung disetiap
vertexnya.
d.
Polygon
: membuat objek berupa bentuk geometri
tertentu dengan jumlah sisi tertentu dan beraturan (segi tiga, segi lima, dsb)
e.
Rectangle
: membuat objek berupa segi empat beraturan.
f.
Arc
: membuat objek garis lengkung.
g.
Circle
: membuat objek lingkaran.
h.
Revcloud
: untuk membuat objek seperti awan.
i.
Spline
: membuat objek berupa garis lengkung dengan lebih dari satu lengkungan.
j.
Ellips
: membuat objek berupa elips.
k.
Insert
Block : menampilkan gambar/objek yang sebelumnya telah dibuat (block).
l.
Make
Block : menyimpan objek sebagai sebuah block sehingga dapat ditampilkankembali
dalam gambar yang lain.
m.
Point
: membuat objek berupa titik.
n.
Hatch
: membuat arsiran/warna pada sebuah bidang tertutup.
o.
Region
: membuat objek baru dari batas-batas tertutup objek yang telah ada.
p.
Mltiline
Text : menambahkan teks pada gambar.
2. Tool
Modify
Pada
Tool Modify terdapat tool-tool yang bersifat merubah objek atau menambahkan
objek baru berdasarkan objek yang telah ada:
a.
Erase
: menghapus objek.
b.
Copy
Object : menduplikat objek.
c.
Mirror
: menduplikat objek dengan ukuran dan bentuk yang sama namun arahnya berbeda
(efek cermin).
d.
Offset
: membuat garis sejajar dengan objek yang telah ada.
e.
Array
: menduplikat objek menjadi beberapa objek yang tersebar beraturan berdasarkan
baris dan kolomnya dengan pola penyebaran sesuai dengan jarak yang ditentukan.
f.
Move
: memindahkan objek.
g.
Rotate
: memutar objek.
h.
Scale
: memperbesar ukuran objek.
i.
Stretch
: Merubah bentuk objek berdasarkna vertex-nya.
j.
Trim
: memotong objek garis berbasis objek lain.
k.
Extend
: memanjangkan objek garis berbasis objek lain.
l.
Break
At Point : memutus sebuah garis pada vertex tertentu.
m.
Break
: memutus sebuah garis.
n.
Chamfer
: memangkas sudut sebuah objek.
o.
Fillet
: memangkas sudut sebuah objek dan membuatnya melengkung (round).
p.
Explode
: memecah sebuah objek menjadi objek-objek baru yang merupakan bagian dari
objek sebelumnya.
EMBUAT
PROJECT BARU
1.
Jalankan
Software AutoCad Land Desktop 2004 pada Start
Menu - All Programs - Autodesk - Autodesk Land Desktop 2004 - Autodesk Land
Desktop 2004.
Maka
akan mucul kotak dialog Start Up seperti pada gambar dibawah ini:
Daftar project yang telah pernah digunakan
|
Tombol untuk membat project baru
|
Tombol untuk membuat project baru
|
Tombol untuk membuka project yang telah ada
|
2.
Klik
tombol New, maka akan muncul kotak
dialog New Drawing: Project Based, isikan
nama file gambar yang akan dibuat kemudian klik tombol Create Project…
Isikan nama file gambarnya (*.dwg)
|
dan akan muncul kotak
dialog Project Details, pilih
Default (Meters) pada pilihan Prototype, dan isikan nama folder Project yang
akan dibuat untuk penyimpanan file-file gambarnya.
Pilihan profil satuan dalam gambar
|
Pilihan profil skala peta yang akan digunakan
|
Isikan nama folder project-nya
|
3.
Langkah
selanjutnya adalah melakukan setting project-nya, setelah menentukan nama
project dan nama file-nya maka akan muncul kotak dialog Create Point Database, untuk kotak dialog ini bisa dilewatkan
dengan meng-klik ok langsung dan selanjutnya akan muncul kotak dialog Load Settings seperti pada gambar
dibawah ini:
Pilih profil skala
yang akan digunakan -misalkan: untuk skala 1:1000 maka pilih profil m 1000 set
(Metric. 1 : 1000), kemudian klik Next. Selanjutnya akan muncul kota dialog Units, pada kotak dialog ini pilih Meters untuk Linear Units, Degree
untuk Angle Units, dan North Azimuth untuk Angle Display Style.
Selanjutnya akan
tampil kotak dialog Scale dimana
kotak dialog ini untuk memilih skala horizontal dan vertikal serta ukuran
kertas yang digunakan. Pilihan ini akan berpengaruh pada ukuran font apabila
terdapat teks dala peta yang dibuat -misal: skala horizontalnya adalah 1:1000
sedangkan skala vertikalnya adalah 1:100 serta ukuran kertasnya adalah A1 (594
x 841 mm).
Setting berikutnya
adalah menentukan sistem proyeksi dan datum peta, dengan memilih sistem
proyeksi pada kotak dialog Zone,
dalam kotak dialog ini terdapat berbagai sistem proyeksi yang biasa digunakan
dalam pembuatan peta, dalam pelatihan ini dimisalkan sistem proyeksinya adalah
UTM Zona 48 South dengan datum horizontalnya adalah WGS 1984.
Untuk tampilan berikutnya
adalah preview hasil setting-an projectnya jadi bisa dilewatkan dengan
meng-klik tombol Next sampai dengan Finish.
EMBUAT KONTUR
HASIL PENGUKURAN TOPOGRAFI
Setelah project
selesai disiapkan, langkah selanjutnya dalam pembuatan peta kontur adalah
meng-import titik-titik koordinat hasil pengukuran topografi, dimana pada
setiap titknya mengandung nilai-nilai Absis (X)/Easting, Ordinat (Y)/Northing,
dan Height (Z), dan bilamana diperlukan dapat ditambahkan dengan nilai
Deskripsi titik (Desc.).
1.
Langkah
pertama yang harus dilakukan adalah mengenali susunan format penyusunan titik
yang akan di-import, dalam pelatihan ini susunan format yang digunakan adalah
Point (P) - Easting (E) - Northing (N) - Height (Z) - Description (D) dengan
format file adalah text tab delimited.
2.
Setelah
format data dikenali, langkah berikutnya adalah memilih Points pada toolbars menu dan pilih Import/Export Points - Import Points.
Pilihan Format Data
|
Tombol untuk memilih file data
|
File yang dipilih
|
Pada kotak dialog Format Manager : Import Points, pilih
PENZD (space delimited) kemudian pilih nama file-nya (Permukaan Eksisting.txt).
untuk selanjutnya klik ok sampai
muncul titik-titik koordinat pada layar.
Untuk merubah tampilan
titik-titik koordinat yang telah di-import dapat dilakukan dengan memilih semua
titik-titik koordinatnya kemudian klik kanan dan pilin Display Properties.
Misal: berikan nilai
0.5 untuk Text Size dan pilih bentuk
“Titik” untuk Custom Marker Symbol-nya
dan pilih Size In Absolute Units
pada Custom Marker Size dan beri
nilai 0.2 untuk Size-nya.
3.
Langkah
selanjutnya adalah membangun surface dari titik-titik koordinat hasil
pengukuran. Pilih Terrain pada
toolbars menu dan pilih Terrain Model
Explorer.
Maka akan muncul kotak
dialog Terrain Model Explorer. Klik kanan pada folder Terrain dan plih Create New
Surface. Klik seluruh tanda plus (+) pada samping kategori tool-nya untuk
meng-expand pilihan. Untuk mengganti nama surfacenya dapat dilakukan dengan meng-klik
kanan pada Surface1 dan pilih Rename (misal: ganti nama surface
dengan “Eksisting”).
Folder Terrain
|
Nama Surface-nya
|
Kategori Data Pembentuk Surface
|
Kategori data
pembentuk surface adalah jenis-jenis data yang akan digunakan untuk membangun
surface, dalam hal ini kategori data yang digunakan adalah kategori Point Files. Klik kanan pada Point Files kemudian pilih Add Points From AutoCAD Objects dan
pilih Points. Maka pada Command Line muncul pilihan Selects Objects by [Entity/Layer]
<Layer>, ketik “e” untuk
memilih point berdasarkan entity,
kemudian pilih seluruh point yang telah di-import sebelumnya. Setelah data
point terekam, langkah berikutnya adalah membangun surface-nya dengan meng-klik
kanan pada nama surface-nya (Eksisting) kemudian pilih Build untuk selajutnya adalah pilihan untuk membuat suface dapat
dilewati saja sampai dengan muncul kotak pemberitahuan Done Building Surface itu artinya surface telah terbangun dan Kotak
Dialog TerrainModel Explorer bisa ditutup. Untuk melihat bentuk surfacenya
dapat dilakukan dengan memilih Edit
Surface - Import 3D Lines pada
menu toolbar Terrain.
Tahap
berikutnya adalah membuat garis kontur. Langkah pertama yang dilakukan adalah
memilih pada toolbar menu Terrain - Create Contours maka akan muncul kotak
dialog Create Contours. Pilih nama surface yang akan digunakan (misal :
Eksisting) dan tentukan interal kontur minor yang digunakan (misal : 0.50
artinya kontur minor dibuat setiap ketinggian 0.5m).
Nama Surface-nya
|
Tombol Style Manager
|
Interval Kontur Minor
|
Untuk mengedit
tampilan konturnya dapat dilakukan dengan memilih Tombol Style Manager, maka akan muncul kotak dialog Contour Style Manager. Untuk Smoothing Option dapat dipilih Add Vertices kemudian beri nilai
maksimum lalu klik Apply. Setelah selesai mengedit tampilan maka akan kembali
ke kotak dialog Create Contours lalu
klik ok.
Add Vertices
|
Langkah berikutnya
adalah meberikan label ketinggian pada kontor majornya dengan cara memilih Contour Labels - Group Interior pada menu Terrain,
maka akan muncul kotak dialog Contour
Labels - Increments, tulis angka 2.5
pada Elevation Increment artinya
label ketinggian hanya dicantumkan pada setiap kelipatan 2.5 meter dan cek list
pada Add Multiple Interior Label Along
Each Contour dengan Spacing
100.00 artinya label ketinggian dicantumkan sepanjang garis kontur setiap 100
meter panjang kontur.
Tentukan Start Point, yaitu di mulai dari kontur
major yang paling pinggir dan ditarik sejauh batas luar area.
EMBUAT LAYOUT PETA
1.
Tahapan
pertama dalam pembuatan layout peta adalah membuat Grid peta, maka langkah
pertama dalam membuat grid adalah menentukan koordinat pojok kiri bawah peta
sebagai titik awal grid peta, caranya dengan membuat kotak (rectangle) pada peta dan menampilkan nilai koordinat
dari pojok kiri bawah peta dengan mengetik “id” pada Command Line
kemudian klik pada pojok kiri bawah kotak yang telah dibuat.
Setelah nilai
koordinat pojok kiri kotak teridentifikasi, selanjutnya menentukan koordinat
awal grid dengan mencari nilai kelipatan grid (sesuai skala) yang terdekat
dengan nilai koordinat pojok kiri bawah kotak tadi.
Misalkan koordinat
pojok kiri adalah (407521.83,9574285.60) dan skala yang digunakan adalah 1:1000
maka nilai kelipatan gridnya adalah 100 dimana nilai ini didapat dari skala
dalam satuan centimeter dibagi dengan 10 cm (jarak antar grid). Jadi nilai
koordinat awal grid adalah (407500.00,9574200.00) -kelipatan 100 yang terdekat-
Setelah nilai awal
grid teridentifikasi, buatlah garis grid vetikal dan horizontal.
Kemudian
lakukan perintah Array untuk
masing-masing garis dengan cara meng-klik tombol Array pada side toobar.
Tombol Array
|
Maka akan muncul kotak
dialog Array, berikan nilai pada masing-masing kolom.
Jumlah Penambahan Objek kearah
vertikal
|
Jumlah Penambahan Objek kearah horizontal
|
Jarak antar objek (mewakili jarak antar grid)
|
Maka hasilnya akan
terlihat seperti pada gambar di bawah ini:
Langkah berikutnya
adalah membuat frame peta dimana dalam frame peta terdapat isi peta dan kepala
utama peta. Pembuatan frame peta dilakukan di tab “Layout”.
Namun sebelum membuat
frame, ukuran kertas disesuaikan terlebih dahulu sesuai kebutuhan, caranya
adalah dengan meng-klik kanan pada tab “Layout”-nya
kemudian pilih Page Setup, maka akan
muncul kotak dialog Page Setup : Layout1.
Tab Layout
|
Plot Scale
|
Page Size
|
Plot Area
|
Atur Plot Scale-nya menjadi 1:1 dimana 1 mm
= 1 units dengan Plot Area adalah Layout.
Untuk mengatur ukuran
kertas, dapat dipilih pada Page Size-nya
[misal: pilih ISO A3 (297.00 x 420.00 MM)].
Setelah ukuran kertas
disesuaikan, langkah berikutnya adalah membuat kotak-kotak untuk frame peta,
isi peta, dan kepala utama peta. Isi peta adalah kotak yang menampilkan gambar
petanya sedangkan kepala utama peta adalah untuk menampilkan
keterangan-keterangan mengenai peta itu sendiri. Pembuatan frame peta jangan
sampai ukurannya melebihi garis margin dari layoutnya.
Frame
|
Kotak isi peta
|
Kotak Kepala utama peta
|
Untuk menampilkan peta
pada kotak isi peta dengan cara memilih View pada toolbar menu kemudian pilih Viewports - Object. Kemudian pilih objct dengan meng-klik kotak isi peta.
Langkah berikutnya
adalah mengatur skala tampilan gambar isi peta sesuai dengan kebutuhan (misal :
skala 1:1000), pertama alihkan jendela edit ke Model dengan meng-klik tab Paper menjadi Model, kemudian ketik “Z”
dan Enter, kemudian ketik “S” dan Enter, perintah ini adalah untuk mengktifkan Zoom Scale dimana
tampilan gambar di perbesar berdasarkan skala perbesarannya, isikan nilai “1xp” untuk nilai perbesaran skala
1:1000.
0.1XP
|
Untuk skala
|
1:10000
|
0.2XP
|
Untuk Skala
|
1:5000
|
0.5XP
|
Untuk skala
|
1:2000
|
1XP
|
Untuk
skala
|
1:1000
|
2XP
|
Untuk Skala
|
1:500
|
4XP
|
Untuk Skala
|
1:250
|
Langkah selanjutnya
adalah memberikan nilai koordinat grid peta pada tepi peta. Caranya adalah
dengan memasang Text pada masing-masing garis grid pada Layout-nya kemudian
pada text itu ditulis masing-masing nilai Absis dan Ordinatnya.
Nilai Absis Koordinat Grid
|
Nilai Ordinat Koordinat
Grid
|
Langkah berikutnya
adalah membuat keterangan pada kepala utama peta yang diperlukan dari peta itu
sendiri, seperti: Judul Peta, Legenda/Keterangan, Arah Utara, Informasi Skala
dan Sistem Proyeksi, Informasi Pemilik Peta, dan lain sebagainya.
Langganan:
Komentar (Atom)



