Translate

Selasa, 05 Januari 2016

Triangulasi Udara

TRIANGULASI UDARA

by WAHYU NURMARCH 30, 2014
Triangulasi udara merupakan metode penentuan titik kontrol dengan cara melakukan pengukuran koordinat foto atau koordinat model yang selanjutnya diproses dengan perhitungan perataan, sehingga dapat diperoleh koordinat maupun elevasi tanah dengan ketelitian yang memenuhi persyaratan teknik untuk keperluan pemetaan fotogrametri.
Berdasarkan data koordinat yang diukur, maka triangulasi udara dapat dilakukan dengan tiga cara,
yaitu :
  1. Aeropoligon dengan data input berupa koordinat strip
  2. Independent Model Triangulation , data input berupa koordinat model.
  3. Bundle Adjustment , data input berupa koordinat foto.
Triangulasi udara adalah bagian kegiatan dalam pemetaan fotogrametri dengan cara mengukur
titik-titik minor foto, kemudian ditranformasi ke titik referensi (titik kontrol tanah). Kegiatan triangulasi udara ini dapat dilaksanakan dalam waktu yang singkat dan biaya yang lebih murah dibandingkan dengan metode konvensional yang dilakukan secara terestris dilapangan. Berdasarkan cara pengukuran yang dilakukan dan instrument yang digunakan yaitu menggunakan metode Model Bebas (independent
model) yang berdasarkan pada unit dasar model dimana dilakukan pengukuran koordinat titik-titik model hasil orientasi relatif dan pengukuran koordinat pusat proyeksi foto udara.
1. Persebaran titik kontrol tanah vertikal dan
horisontal
 2. Triangulasi Udara (titik-titik van gubber)
3. Contoh persebaran titik triangulasi udara dengan 2
jalur
Gambar di atas menunujukkan 2 jalur terbang yang berisi titik persebaran Triangulasi Udara baik titik kontrol vertikal maupun titik kontrol horisontal.
Pengambilan data koordinat untuk keperluan triangulasi udara dapat dilakukan dengan tiga cara,
yaitu :
  1. Pengadaan data koordinat strip
    Pengadaan data koordinat strip antara lain dapat dilakukan dengan menggunakan alat multiplex. Data hasil pengamatan berupa data koordinat strip. Strip adalah gabungan dari beberapa foto udara yang saling overlap  antara satu foto dengan foto berikutnya. Untuk menggabungkan foto udara tersebut dilakukan dengan mengidentifikasi obyek yang sama antara dua foto udara yang berurutan, selanjutnya kedua foto udara tersebut disambungkan pada obyek yang sama, sehingga antara satu foto dengan foto berikutnya menjadi mosaik foto udara. Dengan cara yang sama dilakukan penyambungan foto berikutnya, sehingga akan membentuk satu strip memanjang dari foto udara dalam satu jalur penerbangan.
  2. Pengadaan data koordinat model
    Pengadaan data koordinat model dapat dilakukan dengan dua cara sebagai berikut  :
    a.       Dengan menggunakan alat stereo plotter. Hasil pengukuran dengan stereo plotter adalah koordinat model dengan sisitem koordinat yang independent (bebas).
    b.      Dengan menggunakan Komparator Hasil ukuran denga alat komparator adalah data koordinat komparator. Data koordinat komparator ini terlebih dahulu diubah ke sistem koordinat foto dengan software tertentu. Selanjutnya data koordinat foto ini ditransformasikan ke sistem koordinat model dengan suatu program yang disebut Digital Relative Orientation ( DRO ).
  3. Pengadaan data koordinat foto Pengadaan data koordinat foto dilakukan dengan menggunakan alat komparator. Hasil pengukuran dengan komparator ini berupa koordinat komparator yang selanjutnya diubah ke sistem koordinat foto.


sumber:http://geospasial.net/2014/03/triangulasi-udara/

Fotogrametri

Fotogrametri

Definisi Fotogrametri
Fotogrametri merupakan seni, ilmu, dan teknologi perolehan informasi tentang obyek fisik dan lingkungan melalui proses perekaman, pengukuran, dan penafsiran foto udara (Thomson dan Gruner, 1980).

Istilah Fotogrametri berasal dari kata photos (=sinar), gramma (=sesuatu yang tergambar) dan metron (=mengukur). Secara sederhana maka fotogrametri dapat diartikan sebagai "pengukuran secara grafis dengan menggunakan sinar". Dari definisi tersebut dapat dimengerti bahwa fotogrametri meliputi (Wolf, 1983) :
-Perekaman obyek (pemotretan)
-Pengukuran gambar obyek pada foto udara
-Pemotretan hasil ukuran untuk dijadikan bentuk yang bermanfaat (Peta).

Garis besar Proses Fotogrametri


...Diagram...


a. Persiapan
Secara teknis dalam kegiatan persiapan di lakukan "
- Perencanaan pemotretan
- Perencanaan Pengukuran dan Penandaan titik kontrol tanah (premarking)

b. Premarking/Penandaan titik kontrol tanah
Sebelum dilakukan pemotretan pada setiap titik kontrol tanah yang ada harus diberi tanda (premark). Hal ini dimaksudkan supaya pada foto udara hasil pemotretan nantinya akan dapat ditemukan titik-titik kontrol tanah tersebut. Hal ini sangat penting artinya dalam pekerjaan triangulasi udara.

c. Pengukuran titik kontrol tanah
Titik kontrol tanah yang telah ditandai kemudian diukur untuk mengetahui koordinatnya, baik koordinat planimetri (X,Y) maupun tinggi (Z). Biasanya untuk daerah datar cukup diukur koordinat planimetrinya, sedangkan untuk daerah bergunung selain koordinat planimetri juga harus diukur tingginya. Koordinat titik kontrol tanah ini diperlukan untuk proses triangulasi udara.

d. Pemotretan
Pemotretan dilakukan sesuai dengan perencanaan pemotretan. Dari hasil pemotretan diperoleh foto udara dari daerah yang akan dipetakan. Foto udara yang dihasilkan dapat dapat diketahui baik tidaknya dari kualitas ketajaman dan kesempurnaan overlap dan sidelapnya. Biasanya foto udara mempunyai overlap 60% dan sidelap 30%, dan untuk keperluan tertentu bisa dibuat dengan overlap 80% dan sidelap 60%

e. Triangulasi Udara
Untuk keperluan proses penyeragaman skala pada setiap foto udara harus terdapat sejumlah titik kontrol tanah. Mengingat pekerjaan fotogrametri meliputi daerah yang luas dan meliputi jumlah foto yang sangat banyak, maka pengadaan titik kontrol tanahnya dilakukan dengan cara triangulasi udara. Secara sederhana triangulasi udara merupakan proses transformasi dari koordinat yang diukur di foto ke koordinat tanah dengan bantuan titik kontrol tanah dengan bantuan titik kontrol tanah hasil (c).

f. Proses restitusi
Proses ini secara sederhana dapat dikatakan sebagai proses penyeragaman skala, dari foto udara yang tidak seragam skalanya menjadi peta/foto yang seragam skalanya. Untuk daerah datar biasa dilakukan dengan cara restitusi foto tunggal, dan disebut sebagai proses rektifikasi, hasilnya berupa foto terrektifikasi. Untuk daerah bergunung dilakukan dengan cara restitusi foto stereo, yang meliputi pekerjaan orientasi model dan dilanjutkan dengan proses plotting atau orthophoto, hasilnya bisa berupa manuskrip peta garis atau porthophoto.

g. Mosaik
Secara sederhana dapat dikatakan sebagai proses penyambungan foto, sehingga diperoleh format ukuran yang lebih luas. Dalam rangkaian pekerjaan pemetaan fotogrametri, yang dibuat mosik adalah foto terrektifikasi atau orthophoto, dan dikontrol dengan adanya titik ikat. Istilah yang lebih tepat sering disebut mosaik terkontrol.

h. Interpretasi foto
Informasi tekstual (tutupan lahan) dari daerah yang dipotret, yang akan disajikan sebagai keterangan pada petatidak mungkin untuk didata langsung dilapangan, melainkan diperoleh dengan cara diinterpretasikan melalui foto udara. Keyakinan hasil interpretasi biasanya cukup berdasarkan kunci-kunci interpretasi, akan tetapi kadang-kadang harus diuji kebenarannya dengan melakukan identifikasi lapangan.

i. Kartografi
Untuk menyajikan peta, baik peta garis maupun peta foto dalam bentuk yang baku lengkap dengan informasi peta yang diperlukan, maka harus melalui tahapan pekerjaan kartografi.

j. Peta garis dan Peta Foto
Peta garis dan peta foto merupakan produk akhir dari pemetaan fotogrametri. Pada peta garis detil-detil di lapangan digambarkan dalam bentuk simbol-simbol, sedangkan pada peta foto terekam sebagai citra foto.

Jumat, 18 Desember 2015




DAFTAR ISI

BAGIAN I    Mengenal AutoCAD.............................................................................. 2
BAGIAN II   Membuat Project Baru........................................................................... 4
BAGIAN III  Membuat Kontur Hasil Pengukuran Topografi...................................... 8
BAGIAN IV Membuat Layout Peta............................................................................ 15

LAMPIRAN 
File Data Koordinat Hasil Pengukuran Topografi























BAGIAN I
ENGENAL AUTOCAD



Sebelum melukukan kegiatan penggambaran peta (drafting) untuk keperluan topografi, ada baiknya bila mengenal terlebih dahulu tool-tool standar yang biasa digunakan dalam penggambaran sebuah peta.
Terdapat banyak tool-tool dalam AutoCAD, namun pada modul ini hanya akan dikenalan tool-tool yang sering digunakan dalam penggambaran peta.
1.      Tool Draw



Pada Tool Draw terdapat tool-tool yang bersifat membuat objek baru:
a.       Line : Untuk membuat objek berupa garis lurus.
b.      Construction Line : untuk membuat objek berupa garis baseline.
c.       Polyline : membuat objek berupa beberapa garis lurus yang saling terhubung disetiap vertexnya.
d.      Polygon :  membuat objek berupa bentuk geometri tertentu dengan jumlah sisi tertentu dan beraturan (segi tiga, segi lima, dsb)
e.       Rectangle : membuat objek berupa segi empat beraturan.
f.       Arc : membuat objek garis lengkung.
g.       Circle : membuat objek lingkaran.
h.      Revcloud : untuk membuat objek seperti awan.
i.        Spline : membuat objek berupa garis lengkung dengan lebih dari satu lengkungan.
j.        Ellips : membuat objek berupa elips.
k.      Insert Block : menampilkan gambar/objek yang sebelumnya telah dibuat (block).
l.        Make Block : menyimpan objek sebagai sebuah block sehingga dapat ditampilkankembali dalam gambar yang lain.
m.    Point : membuat objek berupa titik.
n.      Hatch : membuat arsiran/warna pada sebuah bidang tertutup.
o.      Region : membuat objek baru dari batas-batas tertutup objek yang telah ada.
p.      Mltiline Text : menambahkan teks pada gambar.
2.      Tool Modify


Pada Tool Modify terdapat tool-tool yang bersifat merubah objek atau menambahkan objek baru berdasarkan objek yang telah ada:
a.       Erase : menghapus objek.
b.      Copy Object : menduplikat objek.
c.       Mirror : menduplikat objek dengan ukuran dan bentuk yang sama namun arahnya berbeda (efek cermin).
d.      Offset : membuat garis sejajar dengan objek yang telah ada.
e.       Array : menduplikat objek menjadi beberapa objek yang tersebar beraturan berdasarkan baris dan kolomnya dengan pola penyebaran sesuai dengan jarak yang ditentukan.
f.       Move : memindahkan objek.
g.       Rotate : memutar objek.
h.      Scale : memperbesar ukuran objek.
i.        Stretch : Merubah bentuk objek berdasarkna vertex-nya.
j.        Trim : memotong objek garis berbasis objek lain.
k.      Extend : memanjangkan objek garis berbasis objek lain.
l.        Break At Point : memutus sebuah garis pada vertex tertentu.
m.    Break : memutus sebuah garis.
n.      Chamfer : memangkas sudut sebuah objek.
o.      Fillet : memangkas sudut sebuah objek dan membuatnya melengkung (round).
p.      Explode : memecah sebuah objek menjadi objek-objek baru yang merupakan bagian dari objek sebelumnya.









BAGIAN II
EMBUAT PROJECT BARU


1.      Jalankan Software AutoCad Land Desktop 2004 pada Start Menu - All Programs - Autodesk - Autodesk Land Desktop 2004 - Autodesk Land Desktop 2004.
Maka akan mucul kotak dialog Start Up seperti pada gambar dibawah ini:
Daftar project yang telah pernah digunakan
Tombol untuk membat project baru
Tombol untuk membuat project baru
Tombol untuk membuka project yang telah ada













2.      Klik tombol New, maka akan muncul kotak dialog New Drawing: Project Based, isikan nama file gambar yang akan dibuat kemudian klik tombol Create Project…  
Isikan nama file gambarnya (*.dwg)












dan akan muncul kotak dialog Project Details, pilih Default (Meters) pada pilihan Prototype, dan isikan nama folder Project yang akan dibuat untuk penyimpanan file-file gambarnya.
Pilihan profil satuan dalam gambar
Pilihan profil skala peta yang akan digunakan
Isikan nama folder project-nya













3.      Langkah selanjutnya adalah melakukan setting project-nya, setelah menentukan nama project dan nama file-nya maka akan muncul kotak dialog Create Point Database, untuk kotak dialog ini bisa dilewatkan dengan meng-klik ok langsung dan selanjutnya akan muncul kotak dialog Load Settings seperti pada gambar dibawah ini:














Pilih profil skala yang akan digunakan -misalkan: untuk skala 1:1000 maka pilih profil m 1000 set (Metric. 1 : 1000), kemudian klik Next. Selanjutnya akan muncul kota dialog Units, pada kotak dialog ini pilih Meters untuk Linear Units, Degree untuk Angle Units, dan North Azimuth untuk Angle Display Style.












Selanjutnya akan tampil kotak dialog Scale dimana kotak dialog ini untuk memilih skala horizontal dan vertikal serta ukuran kertas yang digunakan. Pilihan ini akan berpengaruh pada ukuran font apabila terdapat teks dala peta yang dibuat -misal: skala horizontalnya adalah 1:1000 sedangkan skala vertikalnya adalah 1:100 serta ukuran kertasnya adalah A1 (594 x 841 mm).











Setting berikutnya adalah menentukan sistem proyeksi dan datum peta, dengan memilih sistem proyeksi pada kotak dialog Zone, dalam kotak dialog ini terdapat berbagai sistem proyeksi yang biasa digunakan dalam pembuatan peta, dalam pelatihan ini dimisalkan sistem proyeksinya adalah UTM Zona 48 South dengan datum horizontalnya adalah WGS 1984.












Untuk tampilan berikutnya adalah preview hasil setting-an projectnya jadi bisa dilewatkan dengan meng-klik tombol Next sampai dengan Finish.















BAGIAN III
EMBUAT KONTUR HASIL PENGUKURAN TOPOGRAFI


Setelah project selesai disiapkan, langkah selanjutnya dalam pembuatan peta kontur adalah meng-import titik-titik koordinat hasil pengukuran topografi, dimana pada setiap titknya mengandung nilai-nilai Absis (X)/Easting, Ordinat (Y)/Northing, dan Height (Z), dan bilamana diperlukan dapat ditambahkan dengan nilai Deskripsi titik (Desc.).
1.      Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengenali susunan format penyusunan titik yang akan di-import, dalam pelatihan ini susunan format yang digunakan adalah Point (P) - Easting (E) - Northing (N) - Height (Z) - Description (D) dengan format file adalah text tab delimited.
2.      Setelah format data dikenali, langkah berikutnya adalah memilih Points pada toolbars menu dan pilih Import/Export Points - Import Points.

Pilihan Format Data
Tombol untuk memilih file data
File yang dipilih


































Pada kotak dialog Format Manager : Import Points, pilih PENZD (space delimited) kemudian pilih nama file-nya (Permukaan Eksisting.txt). untuk selanjutnya klik ok sampai muncul titik-titik koordinat pada layar.













Untuk merubah tampilan titik-titik koordinat yang telah di-import dapat dilakukan dengan memilih semua titik-titik koordinatnya kemudian klik kanan dan pilin Display Properties.














Misal: berikan nilai 0.5 untuk Text Size dan pilih bentuk “Titik” untuk Custom Marker Symbol-nya dan pilih Size In Absolute Units pada Custom Marker Size dan beri nilai 0.2 untuk Size-nya.
3.      Langkah selanjutnya adalah membangun surface dari titik-titik koordinat hasil pengukuran. Pilih Terrain pada toolbars menu dan pilih Terrain Model Explorer.











Maka akan muncul kotak dialog Terrain Model Explorer. Klik kanan pada folder Terrain dan plih Create New Surface. Klik seluruh tanda plus (+) pada samping kategori tool-nya untuk meng-expand pilihan. Untuk mengganti nama surfacenya dapat dilakukan dengan meng-klik kanan pada Surface1 dan pilih Rename (misal: ganti nama surface dengan “Eksisting”).
Folder Terrain
Nama Surface-nya
Kategori Data Pembentuk Surface















Kategori data pembentuk surface adalah jenis-jenis data yang akan digunakan untuk membangun surface, dalam hal ini kategori data yang digunakan adalah kategori Point Files. Klik kanan pada Point Files kemudian pilih Add Points From AutoCAD Objects dan pilih Points. Maka pada Command Line muncul pilihan Selects Objects by [Entity/Layer] <Layer>, ketik “e” untuk memilih point berdasarkan entity, kemudian pilih seluruh point yang telah di-import sebelumnya. Setelah data point terekam, langkah berikutnya adalah membangun surface-nya dengan meng-klik kanan pada nama surface-nya (Eksisting) kemudian pilih Build untuk selajutnya adalah pilihan untuk membuat suface dapat dilewati saja sampai dengan muncul kotak pemberitahuan Done Building Surface itu artinya surface telah terbangun dan Kotak Dialog TerrainModel Explorer bisa ditutup. Untuk melihat bentuk surfacenya dapat dilakukan dengan memilih Edit Surface - Import 3D Lines pada menu toolbar Terrain.
















Tahap berikutnya adalah membuat garis kontur. Langkah pertama yang dilakukan adalah memilih pada toolbar menu Terrain - Create Contours maka akan muncul kotak dialog Create Contours. Pilih nama surface yang akan digunakan (misal : Eksisting) dan tentukan interal kontur minor yang digunakan (misal : 0.50 artinya kontur minor dibuat setiap ketinggian 0.5m).
Nama Surface-nya
Tombol Style Manager
Interval Kontur Minor
 











Untuk mengedit tampilan konturnya dapat dilakukan dengan memilih Tombol Style Manager, maka akan muncul kotak dialog Contour Style Manager. Untuk Smoothing Option dapat dipilih Add Vertices kemudian beri nilai maksimum lalu klik Apply. Setelah selesai mengedit tampilan maka akan kembali ke kotak dialog Create Contours lalu klik ok.

Add Vertices












Langkah berikutnya adalah meberikan label ketinggian pada kontor majornya dengan cara memilih Contour Labels - Group Interior pada menu Terrain, maka akan muncul kotak dialog Contour Labels - Increments, tulis angka 2.5 pada Elevation Increment artinya label ketinggian hanya dicantumkan pada setiap kelipatan 2.5 meter dan cek list pada Add Multiple Interior Label Along Each Contour dengan Spacing 100.00 artinya label ketinggian dicantumkan sepanjang garis kontur setiap 100 meter panjang kontur.














Tentukan Start Point, yaitu di mulai dari kontur major yang paling pinggir dan ditarik sejauh batas luar area.































BAGIAN IV
EMBUAT LAYOUT PETA



1.      Tahapan pertama dalam pembuatan layout peta adalah membuat Grid peta, maka langkah pertama dalam membuat grid adalah menentukan koordinat pojok kiri bawah peta sebagai titik awal grid peta, caranya dengan membuat kotak (rectangle)  pada peta dan menampilkan nilai koordinat dari pojok kiri bawah peta dengan mengetik “id” pada Command Line kemudian klik pada pojok kiri bawah kotak yang telah dibuat.
Setelah nilai koordinat pojok kiri kotak teridentifikasi, selanjutnya menentukan koordinat awal grid dengan mencari nilai kelipatan grid (sesuai skala) yang terdekat dengan nilai koordinat pojok kiri bawah kotak tadi.













Misalkan koordinat pojok kiri adalah (407521.83,9574285.60) dan skala yang digunakan adalah 1:1000 maka nilai kelipatan gridnya adalah 100 dimana nilai ini didapat dari skala dalam satuan centimeter dibagi dengan 10 cm (jarak antar grid). Jadi nilai koordinat awal grid adalah (407500.00,9574200.00) -kelipatan 100 yang terdekat-




Setelah nilai awal grid teridentifikasi, buatlah garis grid vetikal dan horizontal.













Kemudian lakukan perintah Array untuk masing-masing garis dengan cara meng-klik tombol Array pada side toobar.
Tombol Array
















Maka akan muncul kotak dialog Array, berikan nilai pada masing-masing kolom.
Jumlah Penambahan Objek kearah vertikal
Jumlah Penambahan Objek kearah  horizontal
Jarak antar objek (mewakili jarak antar grid)
 













Maka hasilnya akan terlihat seperti pada gambar di bawah ini:












Langkah berikutnya adalah membuat frame peta dimana dalam frame peta terdapat isi peta dan kepala utama peta. Pembuatan frame peta dilakukan di tab “Layout”.


Namun sebelum membuat frame, ukuran kertas disesuaikan terlebih dahulu sesuai kebutuhan, caranya adalah dengan meng-klik kanan pada tab “Layout”-nya kemudian pilih Page Setup, maka akan muncul kotak dialog Page Setup : Layout1.
Tab Layout
Plot Scale
Page Size
Plot Area














Atur Plot Scale-nya menjadi 1:1 dimana 1 mm = 1 units dengan Plot Area adalah Layout.
Untuk mengatur ukuran kertas, dapat dipilih pada Page Size-nya [misal: pilih ISO A3 (297.00 x 420.00 MM)].
Setelah ukuran kertas disesuaikan, langkah berikutnya adalah membuat kotak-kotak untuk frame peta, isi peta, dan kepala utama peta. Isi peta adalah kotak yang menampilkan gambar petanya sedangkan kepala utama peta adalah untuk menampilkan keterangan-keterangan mengenai peta itu sendiri. Pembuatan frame peta jangan sampai ukurannya melebihi garis margin dari layoutnya.








Frame
Kotak isi peta
Kotak Kepala utama peta















Untuk menampilkan peta pada kotak isi peta dengan cara memilih View pada toolbar menu kemudian pilih Viewports - Object. Kemudian pilih objct dengan meng-klik kotak isi peta.

















Langkah berikutnya adalah mengatur skala tampilan gambar isi peta sesuai dengan kebutuhan (misal : skala 1:1000), pertama alihkan jendela edit ke Model dengan meng-klik tab Paper menjadi Model, kemudian ketik “Z” dan Enter, kemudian ketik “S” dan Enter, perintah ini adalah untuk mengktifkan Zoom Scale dimana tampilan gambar di perbesar berdasarkan skala perbesarannya, isikan nilai “1xp” untuk nilai perbesaran skala 1:1000.

0.1XP
Untuk skala
1:10000
0.2XP
Untuk Skala
1:5000
0.5XP
Untuk skala
1:2000
1XP
Untuk skala
1:1000
2XP
Untuk Skala
1:500
4XP
Untuk Skala
1:250
Langkah selanjutnya adalah memberikan nilai koordinat grid peta pada tepi peta. Caranya adalah dengan memasang Text pada masing-masing garis grid pada Layout-nya kemudian pada text itu ditulis masing-masing nilai Absis dan Ordinatnya.

Nilai Absis Koordinat Grid
Nilai Ordinat Koordinat Grid



















Langkah berikutnya adalah membuat keterangan pada kepala utama peta yang diperlukan dari peta itu sendiri, seperti: Judul Peta, Legenda/Keterangan, Arah Utara, Informasi Skala dan Sistem Proyeksi, Informasi Pemilik Peta, dan lain sebagainya.