Translate
Senin, 18 Mei 2015
Jumat, 08 Mei 2015
Pemetaan Berantakan, Bagaimana Negeri Ini Mau Maju?
“Peta di Indonesia itu tidak terintegrasi dengan baik. BPN bikin peta sendiri. Bakosurtanal bikin peta sendiri. Bappeda bikin peta sendiri. PBB bikin peta sendiri. Dinas Tata Kota bikin peta sendiri. Dan akhirnya kalau peta-peta itu digabungkan sama sekali gak menyatu” –Ir. Sutomo Kahar, 2008.
Saya ingat, itu adalah inti dari kata-kata dosen Pengantar Geodesi ketika masa-masa awal kuliah di semester satu. Kalimat itu nampak biasa saja di telinga mahasiswa baru yang bahkan baru tahu apa itu Geodesi. Tapi tidak dengan sekarang, dimana saya mendapatinya langsung. Dunia pemetaan di Indonesia ini berantakan!
Maaf, entah saya mengeneralisasikan apa yang saya temukan dalam salah satu proyek dinas di kota Jakarta atau tidak, sehingga saya bisa menyimpulkan demikian. Dan saya juga mohon maaf ketika ini menjadi opini dangkal dari geodet yang bisa dibilang belum punya pengalaman sama sekali. Tapi dengan mengerjakan proyek “aneh” selama berbulan-bulan, insting siapapun akan mengetahui, bahwa peta yang sejatinya menjadi dasar bagi pembangunan sebuah bangsa, menjadi sangat tidak berguna ketika sama sekali tidak merepresentasikan dunia nyata.
Bagaimana tidak? Bayangkan jika Anda disuruh melakukan updating peta pelayanan dari salah satu instansi pemerintah, namun data yang Anda terima hancur lebur. Bahkan ketika di-overlay dengan citra satelit, hampir semua data bidang itu bertabrakan dengan petak-petak rumah yang pada umumnya mewakili satu bidang kepemilikan lahan. Belum lagi data atributnya berupa informasi kepemilikan lahan yang juga tidak kalah kacau. Entah informasi yang kosong atau tidak sesuai dengan data spasialnya (peta). Bayangkan lagi, jika peta yang hancur lebur dikombinasikan dengan informasi yang jauh dari lengkap, layakkah peta itu digunakan sebagai media untuk melayani masyarakat terkait kepemilikan tanah? Bisakah Anda bayangkan betapa konyolnya jika tanah Anda di peta berpindah tempat dari posisi sebenarnya, tergabung dengan tanah orang lain, meluas atau menyempit, atau bahkan hilang?
Itu kasus pertama. Di salah satu sub dinas (sudin) di kota yang sama, pembuatan peta dasar cukup aneh. Katanya melakukan proses updating peta dasar, namun referensi yang digunakan adalah peta-peta lama, bahkan peta tahun 1984 juga dijadikan sebagai referensi. Kita tidak hidup dalam zaman stagnan yang di dalamnya tidak terdapat perkembangan jumlah penduduk dan tempat tinggal. Jika sudah begitu, apalah arti anggaran ratusan juta hingga miliaran rupiah yang disiapkan untuk kegiatan yang “sia-sia” itu? Ah, simpulkan sendiri, saya yakin orang yang tidak belajar pemetaan pun bisa mengerti betapa anehnya hal tersebut.
Itu dari prakteknya. Dari segi teorinya, saya pernah diajak rapat (lebih tepatnya mendengarkan orang rapat) dengan orang-orang dari dinas tersebut, dimana di sana hadir dua ahli tata kota lulusan Perancis dan seorang profesor dari Universitas Diponegoro (sebuah kebetulan bertemu orang se-almamater). Mereka sempat membahas bagaimana perencanaan dan penataan kota Jakarta begitu amburadul. Bukannya peraturan yang mengikuti rencana, tapi rencana lah yang mengikuti peraturan. Nah jika sudah begitu, cukuplah kita bisa mengerti ketika peruntukan lahan tidak mengikuti prosedur yang benar, atau ketika perkembangan kota metropolitan ini begitu ganas sampai mengabaikan keseimbangan tata kota yang baik. Belum lagi moral bangsa Indonesia yang tak kalah bobroknya. Yang punya uang dan koneksi, dia lah yang paling potensial untuk mendapatkan tender. Jika sudah begitu, kembali kita bisa mengerti ketika di salah satu sisi kota Jakarta kita bisa melihat “kota lain” yang super mewah, namun di sudut yang lain terdapat perumahan kumuh yang sangat tidak layak untuk ditinggali.
Peta adalah awal dari segala rencana. Peta yang baik akan menghasilkan pembangunan yang baik. Dengan kondisi pemetaan yang amburadul seperti sekarang, hal tersebut bisa menghambat pertumbuhan bangsa yang terintegrasi di masa depan. Padahal menerapkan sistem pemetaan yang baik juga bukan tidak mungkin untuk dilakukan, meski tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Saya beri satu contoh, sebagai solusi di masalah yang pertama. Jika memang data yang ada sekarang sudah amburadul, melakukan survey ulang sepertinya bukan ide yang buruk. Dari data yang ada, dilakukan verifikasi terlebih dahulu untuk kemudian disesuaikan dengan citra satelit resolusi tinggi terbaru. Setelah itu barulah dilakukan survey untuk melakukan cross check bidang di lapangan sekaligus informasi kepemilikan lahan yang sesuai dengan bidang yang digambarkan. Sulit? Tidak sepertinya, meski memang hal itu membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Tapi dengan data yang benar, pemeliharaannya pun menjadi lebih mudah. Dari segi akurasi pun menjadi terjamin. Memang berat di awal, tapi ke depannya hal itu akan memudahkan pemerintah sendiri, sekaligus mampu meningkatkan kualitas pelayanan instansi kepada masyarakat.
Integrasi peta juga sangat penting. Bagaimana kita bisa merencanakan pembangunanan skala nasional jika peta-peta instansinya saja tidak menyatu? Koordinasi dari salah satu badan nasional (misal Bakosurtanal) mutlak diperlukan. Jika pun setiap instansi mau membuat peta sendiri, haruslah ada sistem yang terintegrasi, seperti sistem koordinat atau metode yang digunakan. Sehingga ketika peta-peta itu disatukan menjadi overlay satu sama lain.
Integrasi peta juga sangat penting. Bagaimana kita bisa merencanakan pembangunanan skala nasional jika peta-peta instansinya saja tidak menyatu? Koordinasi dari salah satu badan nasional (misal Bakosurtanal) mutlak diperlukan. Jika pun setiap instansi mau membuat peta sendiri, haruslah ada sistem yang terintegrasi, seperti sistem koordinat atau metode yang digunakan. Sehingga ketika peta-peta itu disatukan menjadi overlay satu sama lain.
So, mungkinkah hal ini bisa direalisasikan?
Proses Perjalanan Sinyal GPS
Rangkuman salah satu bab dalam buku “PENENTUAN POSISI DENGAN GPS DAN APLIKASINYA” karya Hasanuddin Z. Abidin
Satelit GPS memancarkan sinyal-sinyal, pada prinsipnya untuk ‘memberi tahu’ si pengamat sinyal tentang posisi satelit tersebut serta jarak dari si pengamat beserta informasi waktunya. Dengan mengamati satelit dalam jumlah yang cukup menggunakareceiver GPS, pengamat dapat menentukan posisi, kecepatan, waktu, maupun parameter-parameter turunan lainnya.
Pada dasarnya sinyal GPS dapat dibagi atas 3 komponen yaitu:
1. penginformasi jarak (kode) yang berupa kode-P(Y) dan kode-C/A,
2. penginformasi posisi satelit (navigation message), dan
3. gelombang pembawa (carrier wave) L1 dan L2
Kode-C/A merupakan rangkaian dari 1023 bilangan biner (chips) yang berulang setiap milidetik (msec) dan hanya dimodulasikan pada gelombang pembawa L1. Sedangkan kode-P merupakan rangkaian bilangan biner yang sangat panjang, yaitu 2,3547 x 1014chips, dan polanya tidak berulang sampai setelah 267 hari, serta dimodulasikan pada gelombang pembawa L1 dan L2. Pada saat ini untuk mencegah terjadinya kemungkinan pengelabuan (spoofing) dari pihak musuh, pihak militer AS yang merupakan pengelola GPS, telah mentransformasikan kode-P menjadi kode-Y yang strukturnya hanya diketahui oleh pihak militer AS dan pihak-pihak yang diizinkan saja.
Waktu yang diperlukan untuk ‘mengimpitkan’ kode yang diterima dari satelit dan kode replika yang diformulasikan di dalam receiver (dt) adalah waktu yang diperlukan oleh kode tersebut untuk menempuh jarak dari satelit ke pengamat. Dengan mengalikan data dt dengan kecepatan cahaya maka jarak antara pengamat dengan satelit dapat ditentukan.
Di samping berisi kode-kode, sinyal GPS juga berisi pesan navigasi (navigation message) yang berisi informasi tentang koefisien koreksi jam satelit, parameter orbit, almanak satelit, UTC, parameter koreksi ionosfer, serta informasi spesial lainnya seperti status konstelasi dan kesehatan satelit. Salah satu informasi yang terkandung dalam pesan navigasi GPS adalah ephemeris (orbit) satelit yang biasa disebut broadcast ephemeris. Dalam broadcast ephemeris, informasi tentang posisi satelit tidak diberikan langsung dalam koordinat, tetapi dalam bentuk elemen-elemen keplerian dari orbit GPS yang dapat digunakan untuk menghitung posisi satelit dari waktu ke waktu.
Selain broadcast ephemeris, pesan navigasi juga berisi almanak satelit yang memberikan informasi tentang orbit nominal satelit. Almanak satelit sangat berguna baik bagi receiverGPS dalam proses akuisasi awal data satelit maupun bagi para pengguna dalam perencanaan waktu pengamatan yang optimal.
Gelombang Pembawa
Ada dua gelombang pembawa yang digunakan yaitu L1 dan L2. Dalam hal ini, gelombang L1 membawa kode-kode P (Y) dan C/A beserta pesan navigasi, sedangkan gelombang L2 membawa kode P (Y) dan pesan navigasi. Agar gelombang pembawa dapat ‘membawa’ data kode dan pesan navigasi, maka data tersebut harus ditumpangkan ke gelombang pembawa.
Proses pemodulasian sinyal GPS melalui dua tahap yaitu binary-to binary modification of codes dan tahap binary biphase modulation. Pada tahap pertama, navigation messageditumpangkan ke kode-P(Y) dan kode C/A. Sedangkan pada tahap kedua, masing-masing kode yang telah ‘membawa’ navigation message ditumpangkan ke gelombang pembawa L1 dan L2.
Perjalanan Sinyal GPS
Dalam perjalanannya dari satelit ke pengamat di permukaan bumi, sinyal GPS harus melalui medium-medium ionosfer dan troposfer, dimana dalam kedua lapisan tersebut sinyal GPS akan mengalami refraksi dan sintilasi (scintillation) di dalamnya, serta pelemahan (atmospheric attenuation) dalam lapisan troposfer. Di samping itu, sinyal GPS juga dapat dipantulkan oleh benda-benda di sekitar pengamat sehingga dapat menyebabkan terjadinya multipath, yaitu fenomena dimana sinyal GPS yang diterima oleh antena adalah resultan dari sinyal langsung dan sinyal pantulan. Kesalahan dan bias tersebut akan menyebabkan kesalahan pada jarak ukuran dengan GPS, sehingga harus diperhitungkan dalam pemrosesan sinyal GPS untuk keperluan penentuan posisi.
Sumber gambar:
1. http://www.gpsmagazine.com
2. http://kaskus.us
Penentuan Posisi di Atas Permukaan Bumi
Dalam dunia pemetaan ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan seperti jarak, arah, sudut, elevasi, beda tinggi, koordinat, dan gaya berat. Korelasinya –pada umumnya– jarak dan sudut menentukan posisi suatu titik terhadap titik lainnya yang direpresentasikan dalam sebuah sistem koordinat. Dengan kata lain ketiga aspek itu (jarak, sudut, dan koordinat) adalah sebuah parameter posisi yang merupakan faktor penting dalam peta. Sedangkan elevasi dan beda tinggi adalah aspek terkait tinggi titik pada permukaan bumi terhadap bidang nol yang direpresentasikan menggunakan MSL (Mean Sea Level).
Pemetaan secara matematis dapat dilihat sebagai proses transformasi koordinat titik-titik obyek, dari sistem koordinat geodetik ke sistem koordinat peta (Abidin, 2007). Dengan definisi di atas, sudah tentu tulisan ini akan membahas mengenai posisi planimetris (X, Y) sebuah peta, bukan elevasi (Z).
Seperti kita ketahui, bentuk bumi sebenarnya tidak bulat sempurna, melainkan tidak teratur. Oleh karena itulah, untuk memetakan posisi suatu titik dalam sebuah sistem proyeksi peta kita memerlukan sebuah bidang matematis tertentu. Bidang referensi yang dimaksud adalah ellipsoid. Ellipsoid memiliki dua parameter, yaitu setengah sumbu panjang atau jari-jari ekuator (a) dan setengah sumbu pendek atau jari-jari kutub (b).
Sebelum fokus membahas bidang referensi peta, artikel ini terlebih dahulu mengutamakan teori mengenai sistem koordinat yang digunakan dalam digunakan dalam menentukan posisi di permukaan bumi atau biasa disebut sistem koordinat geodetik. Sistem koordinat geodetik dinyatakan dalam lintang, bujur, dan tinggi (φ, λ, h). Berikut gambaran dari sistem koordinat geodetik.
Gambar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Misalkan kita memiliki sebuah titik di permukaan bumi (dalam gambar dinamakan titik P). Koordinat lintang (φ) titik P adalah sudut yang dibentuk antara sumbu X dengan garis normal, dimana garis normal adalah garis yang tegak lurus dengan permukaan ellipsoid. Sedangkan koordinat bujur (λ) adalah sudut yang dibentuk antara meridian nol dengan meridian titik P pada pusat ellipsoid. Sedangkan tinggi (h) adalah selisih antara titik P pada permukaan bumi dan pada ellipsoid yang ditarik terhadap garis normal. Berikut gambaran posisi lintang geodetik dalam sistem koordinat geodetik.
Penjelasan mengenai sistem koordinat peta akan dibahas kemudian. Semoga bermanfaat.
NB: seluruh gambar bersumber dari materi salah satu profesor Geodesi di Indonesia, Hasanuddin Z. Abidin.
Mengetahui Zona UTM Melalui ArcGIS
Ketika melakukan transformasi koordinat dari geografis ke UTM, kita perlu mengetahui zona UTM dari data yang bersangkutan. Permasalahannya, kita tidak selalu mengetahui pada zona berapa data tersebut berada jika tidak ada informasi yang kita dapatkan. Untuk mengatasinya, ArcGIS menyediakan fasilitas untuk mengetahui zona UTM dari sebuah data yang berformat geografis.
1. Buka atribut pada data yang bersangkutan, lalu tambahkan field baru dengan format text dan panjang lebih dari 600.
2. Buka ArcToolbox à Cartography Tools à Data Driven Pages à Calculate UTM Zone. Pada kolom UTM Zone Field, masukkan field yang dibuat pada langkah pertama.
3. Field baru tersebut akan terisi dengan informasi zona UTM dari data yang bersangkutan.
NB: zona yang dihasilkan tidak disajikan dalam utara (north) atau selatan (south), melainkan dalam huruf yang merepresentasikan garis lintang dalam sistem koordinat UTM. Garis khatulistiwa berada di antara N dan M. Untuk memperjelas, dapat Anda lihat pada gambar di bawah ini.
Semoga bermanfaat... :)
(Mungkin) Begini Sebaiknya Mahasiswa Geodesi Belajar
Masuk jurusan Teknik Geodesi merupakan keberuntungan untuk sebagian orang, dan anugerah untuk sebagian yang lain. Prospek yang cerah dengan persaingan yang tidak terlalu ketat adalah sebuah jaminan masa depan yang minimal tidak akan suram (karena “cerah” itu relatif). Pilihan-pilihan pun terbuka untuk mereka yang suka dengan hal-hal akademis, bisnis, organisasi, atau sekedar “yang penting bisa dapat kerjaan”. Jika target utama adalah gaji yang menggiurkan, beberapa kawan saya sudah membuktikan bahwa bekerja di bidang keteknikan geodesi bisa mencapai taraf lebih dari sekedar makmur.
Meski menjadi sebuah keberuntungan atau anugerah, tidak sedikit (minimal ada) mahasiswa yang kurang menikmati kehidupannya di dunia kampus. Pada akhirnya beberapa kesempatan yang hanya bisa didapatkan di bangku kuliah menjadi terlewatkan begitu saja. Sebagian berdampak pada kehidupannya setelah lulus, misalnya jika ia bekerja di bidang geospasial ia kurang bisa beradaptasi dengan cepat, (masih) tidak menikmati lingkungan kerjanya, serta tidak tahu arah kemana dirinya harus berkembang. Sedangkan jika sudah kapok bergelut dengan dunia pemetaan, ia harus menemukan dunia baru yang tidak hanya dapat menghidupi dirinya dan keluarganya, tapi juga sebisa mungkin harus ia nikmati (karena bekerja tanpa passion mungkin sama menyakitkannya dengan menjadi zombie).
Untuk itu, menemukan cara belajar yang tepat saat menjadi mahasiswa adalah cara tepat untuk mengantisipasi disorientasi saat sudah lulus. Belajar di sini konteksnya adalah belajar segala hal, baik itu hardskill maupun softskill. Kondisi idealnya, ketika lulus ada satu spesifikasi di bidang geospasial (atau lebih spesifik lagi tempat kerja –atau kuliah lanjutan) yang akan kita tuju dengan bekal yang cukup –sehingga kita bisa dengan cepat beradaptasi. Berikut adalah beberapa tips untuk mahasiswa geodesi dalam memanfaatkan segala fasilitas dan peluang yang ada di kampus agar mendapatkan banyak bekal dalam mempersiapkan “hidup yang sebenarnya” pasca lulus. Ini murni dari pengalaman saya, sebagian beruntung sudah saya lakukan, sebagian lainnya adalah bentuk penyesalan karena dulu tak terpikirkan.
1. Jangan segan ikut proyek
Untuk itu, menemukan cara belajar yang tepat saat menjadi mahasiswa adalah cara tepat untuk mengantisipasi disorientasi saat sudah lulus. Belajar di sini konteksnya adalah belajar segala hal, baik itu hardskill maupun softskill. Kondisi idealnya, ketika lulus ada satu spesifikasi di bidang geospasial (atau lebih spesifik lagi tempat kerja –atau kuliah lanjutan) yang akan kita tuju dengan bekal yang cukup –sehingga kita bisa dengan cepat beradaptasi. Berikut adalah beberapa tips untuk mahasiswa geodesi dalam memanfaatkan segala fasilitas dan peluang yang ada di kampus agar mendapatkan banyak bekal dalam mempersiapkan “hidup yang sebenarnya” pasca lulus. Ini murni dari pengalaman saya, sebagian beruntung sudah saya lakukan, sebagian lainnya adalah bentuk penyesalan karena dulu tak terpikirkan.
1. Jangan segan ikut proyek
Kuliah adalah teori, bekerja adalah terapan. Kuliah membantu kita memahami semua dasar-dasar keilmuan geospasial, namun dalam prakteknya akan ada masalah-masalah yang tidak akan sempat dibahas oleh dosen di depan kelas. Mengikuti proyek-proyek pengukuran dan pemetaan membantu mahasiswa dalam mengembangkan mindset-nya di dunia kerja. Secara keterampilan pun kualitas mahasiswa itu juga akan meningkat, misalnya dalam penggunaan alat survei atau pengolahan data menggunakan software tertentu. Selain itu secara finansial ini juga akan menambah pundi-pundi mahasiswa yang seringkali kering di akhir bulan.
Buntutnya, manajemen waktu mahasiswa juga harus diatur sedemikian rupa agar kuliah dan organisasi bisa berjalan beriringan. Sungguh, pengalaman organisasi akan sangat membantu ketika kita berada di dunia kerja. Apalagi ketika kita berada di dunia pemerintahan yang secara teknis berkaitan dengan pemetaan, pengalaman organisasi yang ditunjang dengan pemahaman keilmuan yang baik akan menjadi sebuah kombinasi yang manis. Bukan apa-apa, dunia organisasi mahasiswa yang terkadang bersifat politis (meskipun saya tidak mengerti untuk apa mereka melakukan itu), adalah simulasi kecil dari kondisi politik yang ada di negeri ini (menurut saya si).
3. Rajin mencari dan membaca jurnal serta buku internasional
Geodesi bukanlah ilmu yang sangat populer di Indonesia, ini terkait belum begitu banyaknya SDM di bidang tersebut karena tidak banyak kampus yang menyelenggarakan jurusan geodesi. Salah satu dampaknya adalah minimnya jurnal atau buku yang mengangkat tema keteknikan geodesi, khususnya pemetaan dasar (ada dan banyak tentu saja, tapi jika dibandingkan dengan keteknikan lain tentu geodesi lebih sedikit). Jika mahasiswa mau berkembang, mencari sendiri referensi-referensi internasional yang berkaitan dengan bidangnya tentu menjadi sebuah pilihan yang brilian. Apalagi jika kampus kita berlangganan jurnal internasional yang mentereng, kita bisa men-download-nya dengan gratis.
4. Tulislah paper dan presentasikan di forum nasional
Ini menjadi kesempatan besar yang sering dilewatkan mahasiswa. Anggapan bahwa menulis paper harus berbobot profesor dengan bahasa ilmiah yang tak dapat dimengerti menjadi penghalang utama dalam mempublikasikan karya kita lewat tulisan ilmiah. Paper tidak perlu ditulis dengan konten atau bahasa alien yang berat. Kasarnya, menganalisis hasil pengolahan menggunakan metode atau software yang berbeda pun dapat dijadikan tulisan (menurut saya). Hal ini juga yang menjadi salah satu faktor yang mempersendat perkembangan tulisan-tulisan di bidang pemetaan dasar secara kuantitas. Menulis paper dan mempresentasikannya di forum nasional akan menjadi bekal yang sangat luar biasa. Apalagi presentasi itu tidak semengerikan sidang TA (dari beberapa pengalaman saya). So, apa lagi yang membuat kita ragu untuk menulis?
Hubungan Tiap Mata Kuliah di Jurusan Geodesi
Mungkin setiap mahasiswa pernah berpikir “untuk apa aku belajar mata kuliah ini?” atau “ngapain si belajar beginian? toh di dunia kerja juga nggak kepake”. Kemungkinan terburuk dari persepsi tersebut adalah belajar ogah-ogahan yang menjadikan kelulusan dengan nilai di atas C-pun tak mampu membuat mahasiswa tersebut mengerti tentang esensi dari mata kuliah yang bersangkutan. Padahal, jika tahu apa makna dari mata kuliah tersebut terhadap proses pemetaan secara keseluruhan, bisa jadi mahasiswa akan lebih semangat dalam memahami setiap detail yang diajarkan oleh sang dosen.
Salah satu faktor yang menyebabkan mahasiswa mempunyai pandangan di atas adalah ketidakmampuan dalam menghubungkan satu mata kuliah dengan mata kuliah yang lain. Sistem pengajaran yang dilakukan secara parsial per mata kuliah membuat mahasiswa tidak jarang menjadi tidak mengerti untuk apa sebuah mata kuliah diajarkan. Bukan salah sistem tentu saja, mahasiswa yang (katanya) sudah harus mandiri lah yang semestinya mencari tahu bagaimana setiap pesan yang diajarkan oleh dosen menjadi saling terkait dalam membentuk sebuah proses besar yang bernama pemetaan. Jika pun dosen tak menjelaskan, mahasiswa sendiri yang harus menemukannya.
Inti dari tulisan ini cuma mau menjelaskan sedikit mengenai keterkaitan antar mata kuliah dalam proses pembuatan peta. Peta di sini lebih dispesifikkan ke peta dasar darat –karena yang saya tahu ya itu.
1. Fotogrametri, Penginderaan Jauh, dan Pengolahan Citra Digital
Fotogrametri, penginderaan jauh, dan pengolahan citra digital berkaitan dengan data dasar yang digunakan untuk proses pemetaan. Data dasar di sini mencakup foto udara, LiDAR, atau citra satelit (baik sensor aktif maupun pasif), dan teknisnya berkaitan dengan akuisisi maupun ekstraksi fitur rupabuminya. Data dasar inilah yang menjadi komponen penting dalam pelaksanaan stereoplotting untuk mendapatkan data vektor tiga dimensi sebagai hasil dari proses (awal) pemetaan. Karena itulah, mata kuliah ini menjadi sangat penting untuk kita yang nantinya bekerja di dunia pemetaan dasar (entah itu di pemerintahan atau kontraktor swasta).
2. Model Permukaan Digital
Salah satu hasil dari stereoplotting adalah fitur 3D yang terdiri dari masspoint,breakline, dan sungai. Ketiga unsur tersebut menjadi komponen dalam membentuk DTM (Digital Terrain Model) dan kontur. Di dunia perkuliahan, proses ini dijelaskan dalam mata kuliah Model Permukaan Digital. Di sana diterangkan segala hal yang berkaitan dengan DEM (Digital Elevation Model), mulai dari pengertian, jenis, representasi, hingga pengolahan datanya. Semua yang diajarkan dalam mata kuliah tersebut diaplikasikan pada tahap ini.
3. SIG dan Basis Data
Peta dasar dihasilkan dalam format geodatabase, sehingga sudah pasti kedua mata kuliah ini sangat berkaitan dengan pengolahan dan editing data dalam proses pembuatan peta. Konsep SIG berupa model data spasial (titik, garis, area) dan atribut tentu diperlukan dalam proses entri data survei lapangan dan pembuatan daftar nama rupabumi (gasetir), dan hubungan antar unsur dituangkan dalam proses pembentukan topologi. Pemahaman yang baik mengenai konsep SIG dan basisdata serta penerapannya dalam software seperti ArcGIS adalah modal penting dalam proses pembuatan peta, dan itu dapat dipelajari di dua mata kuliah tersebut.
4. Kartografi
Bagian terakhir dari proses pembuatan peta adalah penyajian peta atau dalam bahasa pemetaan lebih dikenal dengan kartografi. Kartografi berkaitan dengan seni dan estetika, dengan tujuan peta yang dihasilkan dalam format cetak bisa dibaca dengan mudah oleh pengguna peta. Jika dulu kartografi dilakukan secara manual, kini tantangan untuk mahasiswa adalah lebih untuk menguasai kartografi secara digital dengan berbagai macam fasilitas yang disediakan oleh software GIS. Namun tetap, untuk prinsip-prinsip lama yang menjadi dasar dalam esensi kartografi juga harus dipelajari, sehingga peta yang dihasilkan tidak hanya akurat, namun juga indah secara tampilan dan memenuhi kaidah kartografi.
Itu empat dari sekian banyak mata kuliah yang diajarkan di jurusan geodesi, dan keempatnya membentuk suatu proses yang memiliki satu output. Padahal keempatnya diberikan dalam semester yang berbeda-beda (saat saya kuliah dulu). Belum lagi mata kuliah lain yang pastinya juga berhubungan dan tidak akan bisa lepas dari proses besar pemetaan itu sendiri. So, yang sudah beruntung diterima di jurusan geodesi, mari kita belajar sama-sama, agar kelak pilihan yang kita ambil ini benar-benar dapat mengantarkan kita ke kehidupan yang baik. :)
Proyeksi Peta
Pembagian Proyeksi Peta
Proyeksi peta dapat dibagi menurut bidang proyeksi, kedudukan bidang proyeksi, jenis unsur (distorsi), dan modifikasi (gubahan)Proyeksi peta menurut jenis bidang proyeksi dibedakan :
Proyeksi Zenithal (Azimuthal), adalah proyeksi yang menggunakan bidang datar sebagai bidang proyeksinya. Proyeksi ini menyinggung bola bumi dan berpusat pada satu titik. Proyeksi ini menggambarkan daerah kutub dengan menempatkan titik kutub pada titik pusat proyeksi. Proyeksi Azimuthal dibedakan 3 macam, yaitu:
- Proyeksi Azimut Normal yaitu bidang proyeksinya menyinggung kutub.
- Proyeksi Azimut Transversal yaitu bidang proyeksinya tegak lurus dengan ekuator.
- Proyeksi Azimut Oblique yaitu bidang proyeksinya menyinggung salah satu tempat antara kutub dan ekuator.
- Proyeksi Kerucut
- Proyeksi kerucut normal atau standar
- Proyeksi Kerucut Transversal
- Proyeksi Kerucut Oblique (Miring)
- Proyeksi Silinder
- Dapat menggambarkan daerah yang luas.
- Dapat menggambarkan daerah sekitar khatulistiwa.
- Daerah kutub yang berupa titik digambarkan seperti garis lurus.
- Makin mendekati kutub, makin luas wilayahnya.
- Proyeksi Mercator
- Hasil proyeksi adalah baik dan betul untuk daerah dekat ekuator, tetapi distorsi makin membesar bila makin dekat dengan kutub.
- Interval jarak antara meridian adalah sama dan pada ekuator pembagian vertikal benar menurut skala.
- Interval jarak antara paralel tidak sama, makin menjauh dari ekuator, interval jarak makin membesar.
- Proyeksinya adalah konform.
- Kutub-kutub tidak dapat digambarkan karena terletak di posisi tak terhingga.
Ciri-ciri Proyeksi Azimuthal:
a. Garis-garis bujur sebagai garis lurus yang berpusat pada kutub.
b. Garis lintang digambarkan dalam bentuk lingkaran yang konsentris mengelilingi kutub.
c. Sudut antara garis bujur yang satu dengan lainnya pada peta besarnya sama.
d. Seluruh permukaan bumi jika digambarkan dengan proyeksi ini akan berbentuk lingkaran.
Ciri-ciri proyeksi kerucut antara lain:
1. Semua garis bujur merupakan garis lurus dan berkonvergensi di kutub.
2. Garis lintang merupakan suatu busur lingkaran yang konsentris dengan titik pusatnya adalah salah satu kutub bumi.
3. Tidak dapat menggambarkan seluruh permukaan bumi karena salah satu kutub bumi tidak dapat digambarkan.
4. Seluruh proyeksi tidak merupakan satu lingkaran sempurna, sehingga baik untuk menggambarkan daerah lintang rendah.
| ciri ciri proyeksi silinder yaitu: | |
| 1. | Dapat menggambarkan daerah yang luas. |
| 2. | Dapat menggambarkan daerah sekitar khatulistiwa. |
| 3. | Daerah kutub yang berupa titik digambarkan seperti garis lurus. |
| 4. | Makin mendekati kutub, makin luas wilayahnya. |
Sabtu, 02 Mei 2015
Jumat, 01 Mei 2015
Anniv :*
Hari ini hari senin
yapzz tepatnya tanggal 1 ... Enggak kerasa hubungan gw sama vita sudah 19 Bulan
yahh :* semalam gw ketdran pas lagi telponan sama vita engak ingat kenapa gw
sampe ketiduran -, pagi2 sekitar jam 5an gitu gw di bangunin sama vita trus telponan
beberapa menit...Trus lanjut lewat BBMan,, hari ini gw ngerasa spesial banget
apalagi pas gw buka bbm ada tulisan seperti di samping ({}) senang banget gw
rasanya dikirimin seperti itu dan kangen banget dulu biasanya dikirim seperti
itu lagi dan setelah mungkin hampir 1 tahun enggak dikirim seperti itu lagi -,
tapi hari ini dikirimin lagi itu rasanya senang bangettt ;;) Langsung gw
kepikiran buat bikin vidio yg d gabung foto2 itu entah apa itu namnya dan
syukurnya gw lagi banyak kuota.. enggak pikir panjang gw langsung aja gw
download aplikasi buat ngebikin itu...
Langganan:
Komentar (Atom)


















