
Wejangan ini saya
tulis gara-gara IP saya yang nyaris turun drastis dari semester
sebelumnya. Sungguh menyedihkan dan penuh penyesalan. Tapi tidaklah
begitu masalah.
Bagi mahasiswa baru
mungkin masih belum tahu, belum sepenuhnya mengerti apa itu IPK, cara
meraih IPK tertinggi, dan cara menghitung berapakah IP semester yang
telah kita tempuh??
IPK adalah singkatan dari Indeks Prestasi Kumulatif atau bahasa kerennya GPA (Grade Point Average)
merupakan ukuran kemampuan mahasiswa sampai pada periode tertentu yang
dihitung berdasarkan jumlah SKS yang telah ditempuh. Ukuran nilai
tersebut akan dikalikan dengan nilai bobot mata kuliah kemudian dibagi
dengan jumlah SKS mata kuliah yang diambil pada periode tersebut. Yaa,
itulah sedikit keterangan yang saya ambil dari Buku Pedoman Perkuliahan
di Kampus saya.
Untuk meraih Indeks
Prestasi tertinggi disamping harus rajin belajar dan rajin kuliah,
mahasiswa juga perlu kerjasama dengan dosen. Biasanya sebelum
perkuliahan awal semester dimulai dosen memberitahu mahasiswa dalam
sistem penilaian selama kuliah, dan aturan itu telah disepakati antara
dosen dan mahasiswanya. Semacam itu yang dinamakan dengan kontrak
kuliah. Penilaian yang umum di gunakan oleh dosen adalah 10% dari
kehadiran dan tugas, 30% dari hasil Ujian Tengah semester, dan 50 % dari
Ujian Akhir Semester.
Kehadiran Mahasiswa
dalam perkuliahan sangatlah penting, selain dapat materi kuliah,
biasanya ada penilaian tersendiri dari dosen yaitu keaktifan mahasiswa
selama kuliah berlangsung. Dosen akan memberi tugas kepada mahasiswa
secara individu ataupun kelompok tergantung dosen pangampu mata
kuliahnya. Ujian Tengah Semester (UTS) diselenggarakan setelah kuliah
berjalan selama 7 kali pertemuan pada setiap mata kuliah. Kemudian Ujian
Akhir semester yang biasanya dosen mengambil nilai 50% dari ujian ini,
diselenggarakan setelah 7 kali perkuliahan setelah Ujian Tengah Semester
diselenggarakan. Itu gambaran secara umumnya.
Sekarang permasalahannya, IPK tinggi apakah penting dan menjamin??
Jelasnya IPK tinggi
memang sangat penting tetapi harus diimbangi dengan kemampuan kita, dan
bukan menjadi suatu kepentingan nomor satu. Karena nilai A, B+, dan
lain-lain itu tidak menunjukkan dri seseorang. Di zaman serba IT ini
nilai dapat dimanipulasi, tapi skill yang akan membenarkan
semua. Faktanya, bukanlah hal yang aneh jika smua orang menginginkan
nilai A, tapi anehnya sedikit orang yang dapat membuktikan bahwa dia
bernilai “A” dalam segala hal. Isn’t right??
Konkritnya, lebih
baik kualitas bukan kuantitas. Percuma IP bagus tapi cuman formalitas
buat bahan pameran ke orang tua, kualitasnya saja tidak bisa
dipertanggungjawabkan. Dan hasil dari semua itu yang sulit kadang
diperoleh dengan “normal” dan “murni”. Alias dari keringat sendiri tanpa
adanya andil dari “tetangga.”
Buktinya saja tidak
sedikit terdapat mahasiswa di Indonesia yang berusaha keras untuk bisa
meraih IPK tertinggi walaupun melalui mengikuti kegiatan semester pendek
dan remidial, demi meraih IPK diatas 3. Kenapa itu dilakukan? Karena
faktanya dalam administratif IPK diatas 3 lebih mudah untuk meraih
pekerjaan.
Karena IPK merupakan
salah satu syarat dalam mengikuti seleksi pekerjaan. Dan rata-rata dalam
setiap lowongan pekerjaan yang ada selalu mencantumkan syarat IPK
minimal. Yang pasti IPK tertinggi akan lebih mudah untuk lolos ke tahap
selanjutnya yaitu keilmuan, kemampuan kita, dan yang tak kalah
pentingnya adalah kemampuan berorganisasi dan komunikasi.
Akan
tetapi mahasiswa kadang dilema dengan dihadapkan antara dua pilihan
organisasi atau IPK. Lebih penting manakah IPK atau organisasi?
IPK
dan organisasi dua-duanya memang penting. Selain bukan hanya pintar
dalam hal otak saja tapi kita juga perlu mengetahui ilmu dalam
organisasi. Karena di masyarakat itu sangat dibutuhkan dan hal seperti
itu tidak akan didapatkan selama kuliah. Jadi, antara IPK dan organisasi
saling dibutuhkan dan saling keterkaitan satu sama lain. Poin penting
yang harus diperhatikan jika kuliah sambil berorganisasi biar IPK kita
tidak di bawah 3 gara-gara kesibukan di organisasi, yang penting kita
pandai mengatur waktu.
Karena jika kuliah hanya berorientasi pada IPK tinggi (cumlaude)
saja tanpa ada kemauan untuk terjun di dunia organisasi sangatlah (saya
pribadi menilainya) salah. Karena di organisasi kita juga pasti akan
menemukan dan mengasah softskill. Adapun perpaduan antara skill di bidangnya dengan softskill) dan mengekspansi relasi (networking) sangatlah dibutuhkan selama masih kuliah. Hal seperti ini kadang baru terasa kelika sudah beranjak dari masa perkuliahan. So,
jangan cuma jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang). Tapi inget, jika
terlanjur terfokus pada suatu organisasi serta mengenyampingkan
kuliahnya maka akan berimbas pada molornya kuliah (tidak lulus tepat
waktu).
Kesimpulannya, lulus
tepat waktu bisa dicapai dengan IPK yang gak harus tinggi, Tapi di
samping itu ada juga kok yang softskill-nya jelek dan IPK gak tinggi
tetapi dia jadi aset perusahaan. Setiap orang berbeda-beda, jadi semua
tergantung pada independen masing-masing. Maka dari itu, pertimbangankan
matang-matang.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar